..:::!!!!! Selamat Datang !!!!!:::..Di Blog !!!!...Pondok Pesantren...!!! AT-TAUHID AL-ISLAMY CONTACT-085789915222 & EMAIL- (pp.tauhidislamy@gmail.com)

Pendidikan dan Pengajaran

Wednesday, August 8, 2012 | Unknown | 0 komentar

Pondok Pesantren At-Tauhid Al-Islamy lebih mengutamakan dan mementingkan pendidikan dari pada pengajaran. Arah pendidikan di pondok ini :

1. Kemasyarakatan.

2. Hidup sederhana.

3. Tidak berpartai.

4. Tujuan pokok : “Ibadah tholabul ‘ilmi dan Tazkiyatul Nafsi".

1. Kemasyarakatan


“Tidak sepatutnya bagi orang – orang yang mu’min itu pergi semuanya ( ke medan perang ) mengapa tidak pergi dari tiap tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ”.( Q.S. At Taubah.9 : 122 )

Melihat konteks diatas berarti kita dari dan utuk masyarakat. Mereka perlu menunggu, menanti dan mengharap kedatangan kita, maka jangan merasa segan, fobia ( khawatir ), cemas , gerogi , gengsi atau kecil hati. Semua sifat ini tidak pantas dimiliki oleh santri.

“ Jangan kamu merasa bersifat lemah, dan jangan pula bersedih hati. Padahal kamu orang-orang yang paling tinggi ( nafas sosialnya : harkat, martabat dan derajat ). Jika kamu beriman “. ( Q.S. Ali Imron. 3 : 139 )

Disamping itu, apabila anak -anak dapat menyelesaikan studinya disini ternyata semangat masih membara, tenaga kuat, otak masih sanggup dan segar, biaya masih ada, dapat juga mencoba untuk masuk ke Perguruan Tinggi di dalam dan diluar negeri.

Tetapi sekali lagi harus diingat, bahwa anak anakku adalah bagian dari masyarakat dan mereka pula yang akan menilai sampai dimana pribadi kita ( sikap, mental dan tingkah laku ), hasil dari kerja dan karya kita.


2. Hidup sederhana

Adalah hidup yang sesuai dengan tuntunan atau kebutuhan. Kebutuhan secara umum ia dapat di bagi dalam tiga jenis sesuai dengan tingkat kepentingannya. Primer (ضروري), Skunder (حاجتى) dan tertier(كمالي حاجتى) .

Jenis kebutuhan kedua dan ketiga sangat beraneka ragam dan dapat berbeda -beda dari seorang dengan lainnya. Namun kebutuhan primer sejak dahulu hingga kini dapat di katakan sama, yaitu sandang , pangan dan papan.


Untuk kebutuhan primer ini, pondok berusaha untuk mencanangkan program kesederhanaan, dengan tujuan pendidikan. Diantara kesederhanaan itu ialah :

a. Makan

Makanan di Pondok ini sudah sesuai dengan pendapat pakar gizi dan Al Quran. Yaitu lima sehat dan enam sempurna, dengan menambah halal lagi baik.

“ Halal dan baik “. Bisa saja sesuatu bersifat halal tetapi tidak baik atau tidak di senangi Tuhan dan Nabi, sebaliknya sesuatu dinilai “ baik “ tetapi ia tidak halal

Menu makanan telah di tetapkan sesuai dengan dana yang ada dan diusahakan mengandung gizi. Bagi santri baru biasanya mereka heran, kaget bahkan ada yang shock ( bisa di baca sok juga ). Kok makananya begini. Pondok cukup menjawab “ lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya “.

b. Pakaian

Warna pakaian yang paling baik untuk kalangan santri adalah putih atau serupa dengan itu, biru, hijau dan pink.

Biar pakaian itu telah usang ( lama ). Asal bersih ( bagus lagi setrika ). Jangan memakai pakaian norak dan aksesoris yang berlebihan. Cocok untuk perempuan yang ingin tampil baik. Pakailah pakaian yang pantas, sopan dan berwibawa. Jangan berpakaian seperti cowboy, bandit dan tukang sayur ( celana levis dan jeans ).

Perhatikan pakaian yang boleh di pakai di sini.

c. Rambut

Paling lama satu bulan sudah harus di potong kembali, asal ujung rambut sampai menyentuh daun telinga, apalagi kerah baju, itu berarti minta di potong.

Rosulullah SAW berpesan :

ألق عنك شعر الكفر

“ Potonglah rambut jahiliyahmu” . ( H.R Ahmad dan Abu Daud ).

d. Kuku

Kuku yang panjang tempat menginapnya virus dan bakteri melalui makanan ia ikut masuk ke dalam perut. Wal hasil membawa penyakit. Satu minggu umumnya harus di potong kembali.

Banyak lagi yang tidak di sebutkan dengan maksud anak-anak harus dapat menumbuhkan sifat kepekaan dan peduli sendiri terhadap sesuatu yang belum ia ketahui di sini.

2. Tidak berpartai

Pendidikan dan pelajaran di Pondok ini sama sekali tidak ada hubungannya dan sangkut pautnya dengan suatu partai atau golongan.

Hal ini senantiasa tetap berjalan, mengikuti semboyan Pondok Modern dalam mendidik, agar para santri berpikiran bebas, berdiri diatas dan untuk semua golongan agar dapat menjadi “ perekat umat “.

"Rosulullah Bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

"barang siapa mengajak pada fanatisme suatu golongan, maka ia bukanlah dari golongan kami ( H. R Abu Daud )

Dengan jalan demikian, sekeluarnya anak - anak dari didikan pondok ini, mereka bebas dalam memilih faham atau aliran. Tanpa mengurang prinsipnya sebagi seorang mu’min, muslim.

Sebab animo masyarakat sekarang, lebih mau menerima jawaban atas problem sosial, ekonomi, agama, budaya dan politik dari pihak manapun “ siapa “ , akan tetapi “ apa “ yang dapat di berikan untuk menjawab problem problem mereka tersebut

Apakah kelahiran kelompok organisasi NU , NW, MD, dan Persis dapat mententramkan hati umat ? Ternyata harapan masih jauh dari kenyataan.

Kendati demikian Pondok Pesantren At-Tauhid Al-Islamy selalu berusaha agar apa yang di harapkan oleh masyarakat ( baca Umat Islam ) dapat menjadikan kenyataan, yaitu “ Ibadurrahman “ tetap menjadi “ alternatif “ dan “ panutan “ dalam menyuarakan aspirasi problema sosial di masa- masa yang akan datang .

3. Tujuan Pokok ke Pondok ini ialah

Ibadah Tholabul Ilmi Dan Tazkiyatul Nafsi

Pembangunan manusia seutuhnya adalah pembangunan dalam bidang material dan spiritual, termasuk sikap prilaku ( akhlak) dan mental.

Hasil dari tholabul ilmi dan tazkiyatul nafsi adalah tahu diri adapun titik kulminasi dari “ tahu diri “ adalah “ Menggapai Ridho Illahi “.

Adapun nanti diantara anak -anak ada yang mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat. Jangan sekali kali “berkhianat”, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Dan apapun profesi/ kedudukan yang telah dicapai jangan lupa “mendidik dan mengajar”


Bahasa

Bahasa terdiri dari bahasa daerah, nasional dan asing. Sedangkan bahasa isyarat adalah bahasa spesifik. Di pondok ini selain bahasa daerah tidak diajarkan, tidak dipelajari juga ditiadakan. Bahasa ibu ini cukup dipergunakan di lingkungan rumah masing masing.

Bahasa Nasional atau Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa pengantar resmi dalam pendidikan dan pengajaran. Adapun sebagai bahasa percakapan, santri boleh menggunakannya dengan berbisik-bisik. Untuk mengungkapkan pengembangan diri (potensi), bisa melalui penulisan teks pidato, ceramah atau karya ilmiah, bisa juga penerjemahan buku-buku asing yang bermanfaat bagi pelbagai bidang, dalam hal santri wajib menggunakan Bahasa Nasional dengan cermat, tepat dan benar.

Bahasa Asing, Inggris dan Arab menjadi bahasa pengantar resmi pula dalam bidang pendidikan, pengajaran dan percakapan.

Dalam mempelajar Bahasa Asing, ada faktor yang sangat menunjang seperti :

1. Faktor Lingkungan

2. Faktor Sarana (Kurikulum, Methode dan Guru)

Dalam hal ini, pondok tidak mendapat kesulitan sehingga dalam 3 bulan pertama bagi anak anak baru mereka sudah bisa mengenal “Bahasa Dasar”, yaitu bahasa yang terdiri dari leksikon (Kosakata) dan gramatika (Tata Bahasa) yang sangat sederhana, mudah dipahami dan lazim digunakan.

Catatan, untuk Gramatika terdiri dari 2 kategori, yaitu Morfologi (tata bentuk kata) dan Sintaksis (tata kalimat)

Bahasa dasar ini harus “dikuasai”, maksudnya dapat menggunakan tiap-tiap kata dalam segala tempat dengan cermat, tepat, baik dan benar serta harus “lancar” (tidak diingat-ingat sebelumnya). Apabila bahasa dasar sudah dikuasai, maka untuk meningkatkan, memperluas dan memperdalam “insya Allah” tidak akan terlalu banyak menghadapi kesulitan.

Bahasa adalah suatu keterampilan. Jadi, kalau ingin bisa bicara lancar “latihan bicara”, kalau ingin cakap membaca” “latihan membaca”, begitu juga yang ingin pandai menulis dan seterusnya. Adapun kiat yang handal dan termodern untuk menguasai bahasa adalah “dipraktekkan”. Tidak terbatas di lingkungan saja, tetapi kapan dan dimana saja.

Dalam bahasa inggris kita cukup menguasai 500 kosa kata, dan bahasa arab 350 kosa kata. Untuk mematangkan kosa kata tersebut harus menguraikan cara terbaik, tidak akan dapat dengan cara “menghafalkan kamus”.

Untuk mempraktekkannya amat mudah apabila tahu caranya, ada caranya adalah:

1. Tinggalkan bahasa daerah, kalau terpaksa gunakan bahasa Indonesia dengan berbisik-bisik.

2. Membuang rasa segan dan malu.

3. Tidak khawatir salah.

4. Menumbuhkan rasa percaya diri dan kesadaran yang tinggi.

5. Apabila sudah mempunyai kemampuan dalam percakapan, segera “meningkatkannya”

Bagi anak anak lama, tunjukanlah kemampuan kalian kepada adik-adik kelas. Baik dalam percakapan, latihan pidato, karya tulis atau lainnya. Agar kalian dapat mengukur sampai dimana kemampuan yang telah dimiliki. Bagi anak anak baru, ikutilah cara diatas. Insya Allah kalian akan lebih maju dari yang lama. Apabila “bersegera untuk memulai”. Karena “Sebesar itu keinsyafanmu Sebesar itu pula Keuntunganmu”.

Di luar, orang berlomba-lomba mengikuti kursus bahasa, lembaga kursus bertebaran dimana-mana. Apalagi Bahasa Inggris, masing masing lembaga menawarkan berbagai iming-iming fasilitas, kehebatan metode dan biaya kursus yang bersaing, bahkan ada yang berani memampangkan kalimat “No Success No Pay”. Hal ini suatu gejala fenomena masyarakat yang ingin menguasai bahasa asing. Maka bagi anak-anak sekalian walaupun fasilitas kita sangat kurang (seperti: Lab Bahasa, Learning Center, Conversation Club, Native Speaker dan ruang kelas yang efisien), itu bukan sebagai penghalang “untuk maju”. Ingatlah, kemajuan seseorang itu bukan tergantung kepada sarana yang serba komplit, modern dan handal. Tetapi tergantung kepada “motivasi” dan “percaya diri” dan disiplin yang tinggi. Namun apabila sarana itu kita miliki, maka akan lebih sempurna lagi.

Ingatlah Mulailah dengan membaca “Bismillah”

Kerahkan Daya, Ujudkan Upaya, Tingkatkan Usaha dan Jangan Putus Asa.

Kepanduan/ Kepramukaan (Scout)

Fleur de lis adalah lambang kepanduan internasional yang asalnya adalah gambar Bunga Teratai yang biasa digunakan oleh Harun Ar-Rosyid, untuk menandai diadakan acara acara formal, penting dan bergengsi seperti penyematan bintang bintang jasa (pada abad ke 13 M)

Lord Baden Powell, Bapak Kepanduan menjumpai lambang itu di Afrika kemudian dinamainya Fleur De Lis, nama itu hanyalah terjemahan belaka dari nama aslinya yaitu Bunga Teratai.


Ternyata kalau Umat Islam mencurahkan tenaga dan pikiran untuk melacak hasil penemuan-penemuan orang Eropa, akan ditemukan bahwa asalnya kepunyaan Umat Islam. Namun Umat Islam tidak boleh statis terpaku dan terpukau oleh kejayaan masa silam (the glory of the past) apalagi sampai menjadi umat yang vakum, melainkan harus memiliki sifat aktif dinamis untuk menjangkau masa depan.

Dengan kepramukaan kita bisa menjadi advokat dan penjangkau dinamis dari masa depan, karena kepramukaan dilandasi dengan Dasa Dharma. Dan tujuan kepramukaan pun cukup jelas, diantaranya:

- Membentuk mental Spritual

- Membangkitkan jiwa patriotisme ( berani dalam menegakkan kebenaran)

- Menumbuhkan jiwa persaudaraan dan persahabatan.

- Meningkatkan jiwa kepemimpinan.

- Menanamkan sifat berdikari dan kepedulian dan kesadaran terhadap sosial serta lingkungan hidup.

Kepramukaan di pondok ini bukan sekedar suatu permainan belaka, tetapi sebagai sarana untuk menuju kesempurnaan ilmu pengetahuan dan keimanan.

Maka dari itu tidak ada alasan bagi santri untuk tidak mengikuti program dan kegiatan kepramukaan di pondok ini.

Rasulullah bersabda :

مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيْقُونَ فَوالله لاَ يَمِلُّ الله حَتَّى تَمِلُّوا

Artinya: Hendaklah kamu lakukan sesuatu pekerjaan menurut kemampuanmu, karena Allah tidak pernah merasa bosan, sehingga kamu sendiri yang akan merasa bosan. (H.R Ahmad, Bukhori, Muslim dan Abu Daud)


Olah raga (Sport)

“Berbadan Sehat” adalah salah satu motto Pondok Modern, karena apabila kita dalam keadaan sakit (kurang sehat) maka rencana dan aktifitas yang sudah kita tetapkan dan akan kita kerjakan terpaksa tertunda.


Untuk itulah Pemerintah menganjurkan kepada seluruh warga negara untuk menyisihkan waktu luang dan menyediakan kesempatan untuk menjaga kesehatan, agar stamina tubuh selalu prima. Hal ini bisa kita lihat dengan satu ungkapan yang sudah memasyarakat, yaitu :

“Tiada Hari Tanpa Olahraga”

Walaupun sarana olah raga yang ada di pondok ini belum memadai, namun sarana bukanlah “penghalang” untuk meningkatkan stamina tubuh dan prestasi olah raga. Karena banyak olah raga yang tidak membutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap, modern dan bergengsi seperti jalan (Jogging), lari, senam, renang dan pernafasan.


Adapun argumen Islam tentang Olah raga, tercermin dalam firmannya :


Artinya: Dan hendaklah merasa khawatir orang orang yang beriman kepada Allah seandainya mereka meninggalkan generasi generasi yang lemah dibelakang mereka. (Q.S An-Nisa 4 : 9)

Rasulullah SAW menegaskan :

المؤمن القوى خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف

Artinya: Mu`min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada Mu`min yang lemah. (H.R Muslim).

Lebih spesifik lagi bahwa Rasulullah SAW sendiri pernah bertanding dengan istrinya, Aisyah dalam olah raga lari, beliau juga pernah bergulat bahkan menganjurkan untuk berlatih menunggang kuda dan memanah.

Mengapa beliau berolah raga dan menganjurkannya…? Jawabnya, jelas untuk kesehatan tubuh. Tetapi apakah hanya demikian. Jawabnya tentu ‘tidak’. Karena Al-Quran justru mengecam mereka yang hanya sehat tubuh, bahkan indah mengagumkan “bagaikan kayu bersandar-sandar” tetapi jiwanya kosong.

Artinya: Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata dan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seolah-olah kayu yang tersandar. (Q.S Al-Munafiquun :4)


Nabi SAW juga memberikan “lampu kuning” sebagai peringatan bahwa orang yang kuat bukanlah yang hanya memiliki kekuatan fisik, tetapi adalah mereka yang mampu mengendalikan diri.

Sedangkan teori keolahragaan di Pondok ini, dipelajari hanya di kelas satu, itupun juga agar ridak keliru dalam menilai ajaran Islam.

Bisa jadi, orang beranggapan bahwa olah raga bertujuan untuk meraih kesehatan tubuh atau untuk mencapai prestasi, sebagaimana kami sebutkan diatas. Sebenarnya lebih dari itu, ada tujuan yang sangat esensial yaitu kejiwaan. Karenanya, nilai-nilai kejiwaan harus diprioritaskan dan diutamakan serta dijunjung tinggi bukan hanya yang berkaitan dengan sportivitas dan ketahanan fisik, tetapi termasuk pula nilai-nilai spiritual dan ketahanan jiwa.

Ingatlah bahwa di diri kita ada musuh yang nyata, tidak dapat dikalahkan dengan ketahanan fisik atau tubuh yang prima!.


Disiplin

(Discipline)

Al-Quran adalah konsep Rabbani yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu permasalahan pun yang lepas dari jangkauannya, karena ia bukan buatan manusia.

Peraturan apapun yang dibuat oleh manusia, tentu ada maksud-maksud yang tersembunyi dari hasil spekulasi ambisi. Namun demikian bila kita hanya melihat satu sisi saja dari apa yang dibuat/ditetapkan oleh manusia berarti kita belum memiliki “jiwa dinamis” yang lapang dari sifat “iri dengki”

Untuk membentuk kepribadian yang dinamis, tentu membutuhkan beberapa sarana yang sesuai dengan tempat dan waktu. Salah satunya adalah menambah disiplin pada diri kita.

Adapun disiplin Agamis, jelas tidak kita jabarkan, karena anak- anakku berada di sebua lembaga pendidikan Islam. Yang mana segala sikap, mental dan tingkah laku harus sesuai dengan ajaran Islam.

Sedangkan disiplin yagn berhubungan dengan suatu lembaga pendidikan, tentu perlu diterapkan melalu Surat Keputusan Pimpinan dan Pengasuhan Pondok (SKP3) yang berupa “Peraturan”. Menjalankan disiplin akan nampak lebih ringan apabila:

a. Memiliki Niat dan Tekad

b. Memiliki Kesadaran.

c. Memiliki Kemauan.

d. Memiliki jiwa yang siap dipimpin.

Tetapi akan terasa “berat” apabila dijalankan dengan cara “serba terpaksa”.

Di Pondok Pesantren At-Tauhid Al-Islamy tidak ada paksaan, hanya ada perintah-perintah yang mirip dengan suatu paksaan. Biasanya ditujukan kepada anak-anak kecil yang masih lemah jiwanya, atau kepada anak-anak besar yang masih berjiwa lemah seperti anak anak kecil. Ini dilakukan sebagai “pertolongan” agar dapat menguasai diri.

Adapun santri yang terpaksa terkena sanksi disiplin tentu akan diberikan tindakan yang sesuai dengan apa yang telah dilakukan.

فلا أحد يسلم من الخطأ فلا ينبغي أن يدفن محاسن المرء الخطأ

“Tidak ada seorangpun yang selamat dari kesalahan dan tidak sepatutnya kita melenyapkan kebaikan-kebaikan seseorang karena suatu kesalahan”. (H.R Ad-Darimy dan Ad-Darul Quthni).


Apabila ada yang dipulangkan, bukan karena dibenci, atau untuk merusak kepribadiannya, tetapi semata-mata sebagai pelajaran “agar lebih berhati hati dalam mengarungi kehidupan yang lebih luas (baca di masyarakat).

Santri yang ditindak, sesuai dengan prinsip “hasil musyawarah” yang tidak didasari oleh:

- Kejengkelan

- Emosional

- Balas Dendam

Tetapi atas dasar “pendidikan dan kebaikan”.

Tujuan berdisiplin adalah agar:

1. Terciptanya suasana pondok yang ARBIM (Aman, Rapi, Bersih, Indah, Islami dan Mempesona).

2. Tepat Waktu.

3. Berjiwa Besar, berpikiran kritis dan bermental/professional.

4. Daya kreativitas, dedikasi dan loyalitas dapat ditumbuhkan.

5. Kepribadian yang trampil dan handal dapat dibentuk.

6. Dapat memiliki sifat keterbukaan, yaitu “Siap memimpin dan Siap dipimpin”.

7. Dapatnya segala program atau keputusan berkelanjutan.


Sedangkan definisi disiplin ialah “Suatu peraturan yang dibuat dengan sengaja untuk kemaslahatan bersama, dan yang tidak mematuhi akan mendapat tindakan yang setimpal”.

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang tidak mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikan. (Q.S Qaaf :37)


Untuk itu pandai-pandailah :

- Mawas diri : مُحَافَظَةُ عَلَى النَّفْسِ (Hati-hati)

Self Preservations

- Membawa diri :مُرَاعَاةُ النَّفْسِ ( Luwes dan Supel)

Self Regard

- Mengatur diri : تَرْوِيْضُ النَّفْسِ (Disiplin dan Komit)

Self Discipline.

- Menguasai diri :كَفُّ النَّفْسِ (Punya kendali dan filter)

Self Restraint


Pendidikan dan Pengajaran Reviewed by Unknown on Wednesday, August 8, 2012 Rating: 4.5
Share on: Twitter, Facebook, Delicious, Digg, Reddit

Ditulis Oleh : Unknown ~ Tips dan Trik Blogspot

Christian angkouw Artikel Pendidikan dan Pengajaran ini ditulis oleh Unknown pada hari Wednesday, August 8, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Pendidikan dan Pengajaran dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini. Bagi Shobat yang ingin mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, tolong letakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

0 komentar:

Trimakasih atas kunjungan anda.. Blog ini Dofollow) Silahkan menaruh kritik dan saran pada kotak komentar ini, asal tidak SPAM dan bagi yang mencantumkan link, akan terhapus otomatis.