..:::!!!!! Selamat Datang !!!!!:::..Di Blog !!!!...Pondok Pesantren...!!! AT-TAUHID AL-ISLAMY CONTACT-085789915222 & EMAIL- (pp.tauhidislamy@gmail.com)

Hadits Maudhu

Thursday, March 30, 2023 | Tauhid Islamy | 0 komentar

  A.     Pengertian Hadits Maudhu

Secara etimologis kata maudhu' berasal dari akar kata  (وَضَعَ يَضَعُ وَضْعًا فَهُوَ مَوْضُوْعٌ) berarti diletakkan, dibiarkan, digugurkan, ditinggalkan, dan dibuat-buat.

Secara terminologis, para muhadditsin memberikan pengertian dengan redaksi yang beragam, tetapi pada intinya mempunyai makna yang sama. Hadits maudhu' adalah :

مَا نُسِبَ إلى الرسول ﷺ اختلاقاً وكذبًا مِمَّا لَمْ يَقُلْهُ أَو يَفْعَلْهُ أَو يُقِرَّهُ

"Sesuatu yang disandarkan kepada Rasul Saw secara mengada-ada dan bohong dari apa yang tidak dikatakan beliau atau dilakukan dan atau tidak disetujuinya"

Menurut Nuruddin 'Itr maudhu' adalah:

الحديث الموضوع هو المختلق المصنوع

"Hadits maudhu' adalah hadits yang diada-adakan dan dibuat-buat"

Yakni hadits yang disandarkan kepada Rasulullah Saw, dengan dusta dan tidak ada kaitan hakiki dengan Rasulullah Saw. bahkan, sebenarnya ia bukan hadits, hanya saja para ulama menamainya hadits mengingat adanya anggapan rawinya bahwa hal itu adalah hadits.

 

Sedangkan Mohamad Najib (2001:38) merumuskan pengertian hadits maudhu' secara istilah sebagai berikut:

الموضوع: الحديث المختلق المصنوع المكذوب على رسول الله  عمدا او خطأ

"Hadits maudhu' adalah hadits yang diciptakan dan dibuat-buat, yang bersifat dusta terhadap Rasulullah Saw, dibuat secara sengaja atau tidak sengaja"

 

Beberapa unsur penting dalam batasan definisi al-maudhu' adalah sebagai berikut.

a.       Unsur (pembuatan) atau (dibuat-buat). Artinya, apa yang disebut sebagai hadits oleh rawi penyampai riwayat itu adalah hadits "buatan" dia sendiri, bukan ucapan, perbuatan, atau keterangan Nabi Saw.

b.      Unsur (dusta)atau (menipu). Artinya, apa yang dikatakan rawi sebagai hadits Nabi adalah "dusta" dan "tipuan" belaka dari dirinya sendiri, karena bukan hadits Nabi. Hanya dia mengatakan bahwa hadits itu berasal dari Nabi Saw.

c.       Unsur (sengaja) dan (tidak sengaja). Artinya, pembuatan hadits dusta yang disebut sebagai hadits Nabi itu dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja.

 

B.     Bentuk-bentuk kemaudhu'an

Setidaknya ada dua bentuk pemalsuan hadits, yang dilakukan para pemalsu hadits. Di antaranya:

Pertama, pemalsu hadits membuat hadits palsu dengan redaksi sendiri, kemudian dinisbatkan kepada Nabi Saw, dengan cara dilengkapi dengan sanad dan diriwayatkan olehnya.

Kedua, pemalsu hadits mengambil redaksi dari orang lain, seperti para ahli hikmah, dan lain-lain, kemudian kemudian dinisbatkan kepada Nabi Saw, dengan cara dilengkapi dengan sanad.

 

C.      Sebab-sebab Pemalsuan Hadits

Klasifikasi para pemalsu Hadits berdasarkan motif-motif mereka dalam memalsukan hadits, sebagai berikut:

a.       Sebab pemalsuan hadits yang pertama kali muncul adalah adanya perselisihan yang melanda kaum muslimin pada masa fitnah dan kasus-kasus yang mengikutinya; yakni umat Islam terpecah menjadi beberapa kelompok. Kemudian, pengikut setiap kelompok dengan leluasa memalsukan hadits-hadits untuk membela diri dalam menghadapi kelompok yang beranggapan bahwa merekalah yang berhak memegang kepemimpinan sebagai khalifah, di samping untuk memperlancar tujuan dan cita-cita mereka. Misalnya, hadits maudhu' yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan sahabat tertentu. Seperti, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Muawiyah dan lain-lain.

أَبُوْ بَكْرٍ يَلِي أُمَّتِي بَعْدِيْ

"Abu Bakar akan memimpin umatku setelah aku"

عَلي خَيرُ البَشَرِ مَنْ شَكّ فِيهِ كَفَرَ

Ali adalah manusia yang paling baik, dan barang siapa ragu terhadapnya maka ia menjadi kafir"

الأُمَنَاءُ ثَلَاثَةٌ انا وجبريل ومُعَاوِيَةٌ

"Pemegang kepercayaan di dunia itu ada tiga, yaitu aku, Jibril, dan Mu'awiyah"

Ada juga hadits maudhu' lain yang diciptakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk memperkuat posisinya dalam menghadapi lawan politiknya sehubungan dengan masalah-masalah khilafiyah.

b.      Sebab kedua adalah permusuhan terhadap Islam dan untuk menjelek- jelekkannya. Yaitu usaha yang ditempuh oleh orang-orang zindik, terlebih lagi oleh keturunan bangsa-bangsa yang telah dikalahkan oleh umat Islam. Mereka berusaha sedapat mungkin untuk merusak urusan kaum muslimin dengan menyelipkan ajaran-ajaran batil ke dalam Islam dengan harapan kaum muslimin tidak dapat menghindarinya walau dengan berbagai kemampuan, argumentasi, dan bukti-bukti. Di antara hadits yang dipalsukan adalah:

أَنَاخَاتَمُ النَّبِيِّين لَانَبِيَّ بَعْدِي إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ

"Aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku kecuali apabila dikehendaki Allah"

Dalam hadits ini menambahkan kata "kecuali apabila dikehendaki Allah" dengan maksud untuk menguatkan anggapan dari tindakannya, yakni menentang, zindik, dan mengaku sebagai Nabi.

c.       Sebab ketiga adalah al-Targhib wa al-Tarhib untuk mendorong manusia berbuat kebaikan. Hal ini dilakukan oleh orang yang dangkal ilmunya tapi berkecimpung dalam bidang zuhud dan tekun beribadah. Semangat keagamaan mereka yang bercampur dengan ketidaktahuan itu mendorong mereka memalsukan hadits-hadits al-Targhib wa al-Tarhib agar dapat memotivasi orang lain untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan kejahatan menurut anggapan mereka yang rusak.

d.      Sebab keempat adalah upaya untuk memperoleh fasilitas duniawi, seperti pendekatan kepada pemerintah atau upaya untuk mengumpulkan manusia ke dalam majelis, seperti yang dilakukan oleh para juru cerita dan para peminta-minta. Dampak negative kelompok ini sangat besar.

e.       Sebab kelima adalah kemaudhu'an yang terjadi pada hadits seorang rawi tanpa disengaja, seperti kesalahannya menyandarkan kepada Nabi Saw. kata- kata yang sebenarnya diucapkan oleh sahabat atau lainnya. Penyebab lainnya adalah rawi yang daya ingatnya atau penglihatannya terganggu atau kitabnya rusak sehingga ia meriwayatkan hadits yang tidak dikuasainya.

Jenis hadits maudhu' yang terakhir yang paling samar, karena para rawi-nya tidak sengaja memalsukannya padahal mereka sebenarnya adalah orang-orang yang jujur. Oleh karena itu, mengungkap kepalsuan hadits yang demikian sangat sulit kecuali bagi para imam yang kritis dan analitis. Adapun jenis hadits maudhu' lainnya sangat mudah diketahui karena semuanya berasal dari kebohongan dan tidak samar kecuali bagi orang-orang yang kurang pengetahuannya.

 

D.     Tanda-tanda Hadits Maudhu' pada Sanad

Tanda-tanda yang dimaksud merupakan kesimpulan penelitian para muhadditsin terhadap hadits-hadits maudhu' satu persatu, tanda-tanda ini dapat mempermudah pengenalan terhadap hadits maudhu' dan menghindari resiko pembahasan yang panjang lebar. Pedoman-pedoman itu meliputi telaah atas keadaan rawi dan keadaan riwayat. Banyak tanda-tanda hadits maudhu' di antaranya:

a.       Pengakuan pembuat hadits palsu itu sendiri, seperti Abu 'Ishmah Nuh bin Abu Maryam yang mengaku sendiri telah memalsukan hadits mengenai keutamaan surat-surat al-Qur'an. Ada juga Abdul Karim bin Abi al-Auja yang mengaku telah membuat 4000 hadits, mengenai halal dan haram.

b.      Tidak sesuai dengan fakta sejarah, seperti kasus al-Ma'mun bin Ahmad yang menyatakan bahwa al-Hasan menerima hadits dari Abu Hurairah sehubungan dengan adanya perbedaan pendapat dalam masalah tertentu. Ia secara spontan menyebutkan rangkaian sanad yang sampai kepada Rasulullah Saw.

c.       Ada gejala-gejala para rawi bahwa ia berdusta dengan hadits yang bersangkutan. Seperti kasus Ghiyats bin Ibrahim. Adanya bukti (qarinah) menempati pengakuan. Seperti seseorang yang meriwayatkan hadits dengan ungkapan yang meyakinkan (jazam) dari seorang Syeikh, padahal dalam sejarah ia tidak pernah bertemu dengannya.

 

E.      Tanda-tanda Hadits Maudhu' pada Matan

Banyak tanda-tanda kemaudhu'an pada matan, di antaranya:

a.       Kerancuan redaksi atau makna hadits. Salah satu tanda kemaudhu'an hadits adalah lemah dari segi bahasa dan maknanya. Secara logis tidak dapat diterima bahwa ungkapan itu datang dari Rasul.

b.      Setelah diadakan pengkajian terhadap suatu hadits ternyata menurut ahli hadits tidak terdapat dalam hafalan para rawi dan tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits, setelah pengkajian dan pembukuan hadits sempurna.

c.       Haditsnya menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, seperti menyalahi ketentuan akal dan tidak dapat ditakwil atau bertolak belakang dengan perasaan dan kejadian empiris, serta fakta sejarah.

Contohnya:

تَخَتَّمُوا بِالعَقِيْقِ فَإِنَّهُ يُنْفِي الفَقْرَ

"Pakailah cincin dengan batu akik karena akik itu bisa menghilangkan kefakiran"

d.      Haditsnya bertentangan dengan dalil al-Qur'an yang qath'i, dan sunah yang mutawatir, atau ijmak yang pasti dan tidak dapat dikompromikan.

Contoh hadits tentang batas usia dunia:

وَأَنَّهَا سَبْعَةُ اۤلَافٍ وَنَحْنُ فِي الْأَلْفِ السَّابِعَةِ

"Sesungguhnya batas usia dunia itu 7000 tahun, dan kita berada pada seribu tahun yang terakhir"

e.       Mengandung pahala yang berlebihan bagi amal yang kecil. Biasanya motif pemalsuan hadits ini disampaikan para tukang dongeng yang ingin menarik perhatian para pendengarnya atau agar menarik pendengar melakukan perbuatan amal shaleh. Akan tetapi terlalu berlebihan dalam membesarkan suatu amal kecil dengan pahala yang sangat besar. Misalnya:

مَنْ صَلَّى الضُّحَى كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً أُعْطِيَ ثَوَابَ سَبْعِينَ نَبِيًّا

"Barang siapa yang shalat dhuha sekian rakaat diberi pahala 70 Nabi"

 

F.      Hukum Riwayat Hadits Maudhu'

Mahmud Thahan (2004:111) menjelaskan bahwa para ulama telah sepakat tidaklah halal meriwayatkan hadits maudhu' bagi orang yang mengetahui akan kemaudhu'annya. Kecuali jika disertai dengan penjelasan mengenai kemaudhu'annya. Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيْثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِيْنِ

"Barang siapa menceritakan hadits dariku, yang mana riwayat itu diduga adalah kebohongan, maka dia (perawi) adalah salah satu dari para pembohong tersebut."

 

G.     Sumber-sumber Hadits Maudhu'

Banyak terdapat kitab-kitab yang menjelaskan hadits maudhu'

yang telah

disusun oleh para ulama hadits. Mereka mencurahkan segala kemampuan untuk membela kaum muslimin agar tidak terjerumus ke dalam kebatilan. Di antara kitab-kitab sumber hadits maudhu' yang terpenting adalah sebagai berikut:

1)     Al-Maudhu'at karya al-Imam al-Hafizh Abul Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi (w.597 H). Kitab ini merupakan kitab yang pertama dan paling luas pembahasannya dibidang ini. Akan tetapi, kekurangan kitab ini adalah banyak sekali memuat hadits yang tidak dapat dibuktikan kepalsuannya, melainkan hanya berstatus dhaif, bahkan ada di antaranya yang berstatus hasan dan shahih.

2)     Al-La'ali' al-Masnu'ah fi Ahadits al-Maudhu'ah karya al-Hafizh Jalaluddin al- Suyuthi (w. 911 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ibnu al-Jauzi disertai dengan penjelasan tentang kedudukan hadits-hadits yang bukan maudhu' ditambah dengan hadits-hadits maudhu' yang belum disebutkan oleh Ibnu Jauzi.

3)     Tanzih al-Syari'ah al-Marfu'ah 'an al-Ahadits al-Syari'ah al-Maudhu'ah karya al- Hafizh Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Iraq al-Kannani (w. 963 H)

4)     Al-Manar al-Munif fi al-Shahih wa al-Dhaif karya al-Hafizh Ibnu Qayim al-Jauziyah (w. 751 H).

5)     Al-Mashnufi al-Hadits al-Maudhu' karya Ali al-Qari (w. 1014 H). Kitab ini amat ringkas, dan sangat bermanfaat.


Hadits Maudhu Reviewed by Tauhid Islamy on Thursday, March 30, 2023 Rating: 4.5
Share on: Twitter, Facebook, Delicious, Digg, Reddit

Ditulis Oleh : Tauhid Islamy ~ Tips dan Trik Blogspot

Christian angkouw Artikel Hadits Maudhu ini ditulis oleh Tauhid Islamy pada hari Thursday, March 30, 2023. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Hadits Maudhu dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini. Bagi Shobat yang ingin mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, tolong letakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

0 komentar:

Trimakasih atas kunjungan anda.. Blog ini Dofollow) Silahkan menaruh kritik dan saran pada kotak komentar ini, asal tidak SPAM dan bagi yang mencantumkan link, akan terhapus otomatis.